Dalam Kegiatan UKM Virtual Expo 2020, dr Tirta Ungkap Rahasia Sukses Berbisnis

- 27 Oktober 2020, 08:34 WIB
Dr Tirta (Tengah) saat menjadi pebicara pada "UKM Virtual Expo". /Aris Wasita/ANTARA

UTARA TIMES - Siapa bilang entrepreneur tidak bisa menjalankan sisi akademis dengan baik, stigma ini juga ditampik oleh Tirta Mandira Hudhi atau akrab dengan sebutan dr Tirta seorang dokter muda yang menjadi relawan menghadapi virus corona di Indonesia.

dr Tirta yang berprofesi sebagai dokter sekaligus "influencer" mengungkap rahasia sukses berbisnis, salah satunya dengan merangkul pegawai yang 50 persen di antaranya merupakan anak jalanan.

"Saya menemukan kesenangan tersendiri ketika pegawai dapat duit dari situ (usaha yang dimilikinya), apalagi sebagian dari mereka sebelumnya merupakan kaum marginal," katanya saat menjadi salah satu narasumber pada acara bincang bisnis sebagai rangkaian kegiatan "UKM Virtual Expo" yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah di Semarang, Senin, 26 Oktober 2020 Dikutip utara times.com dari ANTARA.

Baca Juga: Anak di Bawah Umur Tetap Bisa di Pidana

Disaat pandemi COVID-19 saat ini dimana tidak sedikit pengusaha yang terpaksa memotong upah karyawannya bahkan beberapa waktu lalu sempat menunda pemberian tunjangan hari raya (THR), justru pria lulusan Fakultas Kedokteran (FK) UGM ini tidak sedikitpun melakukan pemotongan.

"Pelaku usaha itu butuh dana talangan. Saya tidak pernah mengurangi gaji, sedikitpun tidak ada potongan gaji, THR lancar bahkan H-7 sudah saya berikan. Ini karena saya selalu menyisihkan 10 persen dari omzet setiap bulan untuk digunakan sebagai dana talangan. Selama pandemi dana talangan ini yang digunakan untuk menggaji mereka,". Ujarnya.

Tirta mengatakan bahwa karyawan adalah "stakeholder" atau mitra paling kuat dalam perusahaan.

Baca Juga: Tinggalkan Gaji Besar, Pemilik Crispy Ikan Sipetek Kini Raih Omzet Ratusan Juta

"Selama ini kesalahan paling besar pebisnis muda adalah mengambil laba terlalu besar lalu dibuat profit pibadi, sebetulnya ini salah. Ini menimbulkan kecemburuan sosial antara 'owner' (pemilik) dengan pegawai. Misalnya pegawai gaji Rp2,5 juta, padahal dia sudah totalitas tapi gaji tidak naik-naik, besoknya 'owner' beli mobil mewah. Ini membuat pekerja marah, akhirnya terjadi boikot, frontal," katanya.

Halaman:

Editor: Abdul Hapid Badrudin

Sumber: ANTARA


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Big Bad Wolf Adakan Bazar Buku Daring

29 November 2020, 18:15 WIB

Wacana Penghapusan Premiun Dinilai Positif

17 November 2020, 12:10 WIB

Kini AGM Luncurkan Situs Web Commerce

17 November 2020, 11:05 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X